Senggarang, SMANSix_ Dalam rangka menguatkan karakter siswa, terutama karkater disiplin dan bertanggungjawab, Dra. Robiyaton, kepala SMA Negeri 6 Tanjungpinang, didampingi wakil kepala sekolah bidang kurikulum, Riska Oktavianty, S.E., wakil kepala sekolah bidang sarana prasarana, Rimhot Silitonga, S.Si., dan wakil kepala sekolah bidang hubungan masyarakat, Drs. Jumrianto, mengumpulkan seluruh siswa di gedung perfileman pada Selasa, 29 April 2025. Kegiatan yang berlangsung selama dua jam ini dilatarbelakangi oleh jebolnya sebuah pintu kelas beberapa hari sebelumnya.

Dilihat dari lekukan pada permukaan pintu putih berbahan alumunium yang konon diproduksi di China itu, yang tentu bisa kamu bayangkan kualitasnya, kita dapat menduga bahwa pelaku menendangnya dengan sekuat tenanga, seperti pemain rugby yang menendang bola ke tiang gawang dari jarak 70 yard. Keras sekali.

Setelah diselidiki, pelaku perusakan itu ternyata siswa laki-laki, dan ketika ditanya, ia mengaku bahwa pada saat itu pintu tersebut tidak bisa dibuka. “Seperti ada yang mengganjal,” katanya. “Jadi saya tending.”

Selain membahas tentang jebolnya pintu, Dra. Robiyaton juga menyinggung beberapa kejadian serupa yang sebelumnya pernah terjadi – wastafel pecah, kaca pintu WC pecah, dinding dilukis, dan lain sebagainya.

Kasus-kasus seperti ini bukan rahasia umum lagi dan tentu tidak hanya terjadi di SMA Negeri 6 Tanjungpinang. Namun, masalahnya bukan di mana kasus itu terjadi tetapi bagaimana agar hal yang sama tidak terulang lagi. Dalam hal ini, pihak sekolah melakukan pendekatan berupa pengarahan dan diskusi. Dua hal ini kemudian menghasilkan beberapa kesepakatan yang ditandatangani oleh seluruh siswa, misalnya; menggunakan fasilitas sekolah sebagaimana fungsinya; bersedia mengganti fasilitas yang mereka rusak; dan yang ketiga, para siswa menjaga kebersihan sekolah – terutama di kamar mandi.

“Semoga saja.”

“Saya pernah menyampaikan ketika menjadi pembina upacara,” kata Rimhot Silitonga, “bahwa anak-anak harus merasa memiliki sekolah ini.” Menurutnya, dengan merasa memiliki, para siswa akan lebih menghargai dan menjaga segala macam properti yang ada di sekolah, di samping memanfaatkannya sesuai fungsinya masing-masing. Bagaimanapun, properti-properti itu milik bersama; merusaknya berarti menghalangi hak orang lain untuk memakainya.*

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *