Tiga hari setelah pagi ketika Bu Salimah dan teman-temannya berkunjung, kami segera menyiapkan pemberkasan untuk pengajuan akreditasi Perpustakaan Pelita Bangsa, dimulai dengan membuat laporan peminjaman dan laporan pengunjung, dua hal yang sering kami tunda pengerjaannya, lalu tetek bengek yang sebelumnya nyaris tak terpikirkan; kebijakan pengembangan koleksi, jenis kebijakan tertulis pengorganisasian koleksi perpustakaan, penerapan standar/pedoman dalam pengorganisasian koleksi, termasuk rambu-rambu dan sumber anggaran perpustakaan. Semua itu, yang kalau dijilid kira-kira setebal 7 cm, kami kerjakan dalam seminggu.

Bu Pratiwi Hasanah, kepala perpustakaan kami, selain memberi arahan, mengumpulkan foto-foto inventaris dan kegiatan di perpustakaan, baik yang sudah ada maupun yang diada-adakan – ini bagian paling mudah tetapi membuat daya tampung gawainya mencapai batas maksimal dan nyaris eror. Etty Ardianti, yang sehari-hari menangani peminjaman buku, berkutat dengan aneka kebijakan yang bersumber dari berbagai laporan dan artikel.

Setelah semua berkas selesai, termasuk memindai, masalah baru muncul; kami tidak bisa mengunggahnya. SiPAPI, aplikasi akreditasi perpustakaan itu, tidak mau memproses. Sepertinya ia sengaja menguji kami.

“Coba ganti browser, Pak,” jawab Bu Salimah, ketika kami menghubunginya.

“Ganti browser, Pak,” kata Bu Pratiwi.

Tetap tidak bisa.

“Sepertinya yang bermasalah bukan perambannya,” kata saya, “bukan pula jaringan internetnya.”

“Jadi?”

Wajah Bu Pratiwi agak kecewa. Ia menatap setumpuk berkas di atas meja, membuka-buka lembaran itu seolah-olah ada yang perlu dilengkapi lagi, lalu meminta saya menggunakan peramban lain setelah ia membuka lembaran yang ke seratus tiga. Namun, hasilnya tatap sama; tidak bisa.

Berkas-berkas itu baru bisa diunggah tiga hari kemudian tetapi proses pengajuan akreditasi tidak selesai sampai di situ. Masih ada satu lagi. Video profil perpustakaan. Ya! Kami perlu melampirkan pranala (Youtube) yang berisi profil perpustakaan kami, dan karena kepala sekolah, Dra. Robiyaton, sedang mengikuti Bimtek SPMB 2025 di Batam, maka proses pengajuan kembali tertunda dan baru dilanjutkan lagi pada 4 Juni.

Pada saat yang sama, di sekolah kami sedang menggelar gebyar P5, dan ini membuat kami sungkan bahkan untuk sekadar menyampaikan laporan. Dra. Robiyaton sibuk sekali. Beliau sudah di lapangan untuk mengatur posisi kursi, baik dengan ujung telunjuk maupun dengan genggamannya sendiri, bahkan sebelum perpustakaan buka. Bagaimanapun, hari ini ia tuan rumahnya. Ia perlu memastikan bahwa semua persiapan sudah selesai sebelum para tamu undangan hadir.

“Nanti siang saja kita menghadap beliau,” kata Bu Pratiwi, ketika saya masuk perpustakaan.

Setelah gebyar P5 selesai, dan sebelum Dra. Robiyaton masuk ke perpustakaan, kami sudah menyiapkan semuanya; meja yang tertata rapi dengan setumpuk buku di atasnya, juga bunga plastik, selembar koran, kalender kecil, dan laptop yang terbuka. O, satu lagi; tripod – posisinya satu langkah di depan meja. Detail-detail itu juga diperkuat dengan pencahayaan dan latar lemari kaca dua pintu yang di atasnya, menempel pada dinding, sebuah spanduk kecil bertuliskan ‘Selamat Datang Di Perpustakaan Pelita Bangsa’.

“Pas,” kata Bu Pratiwi.

“Pas, kah?” tanya saya, mengutip puisi Joko Pinurbo.

Bu Pratiwi tahu betul apa yang saya maksud dan itu membuatnya tertawa kecil, tetapi lebih karena ini tahap terakhir pemberkasan, bukan karena puisi itu sendiri.

“Mana skripnya?” tanya Bu Robiyaton, ketika masuk.

“Mana skripnya, Bu Pratiwi?” tanya saya.

“Mana skripnya, Bu Ety?” tanya Bu Pratiwi.

Etty Ardianti mengangkat bahu, sedikit saja, tetapi yang sedikit itu pun cukup untuk membuat Dra. Robiyaton menyimpulkan bahwa kami tak memiliki skrip.

“Saya sampaikan yang ada di pikiran saya saja, ya?” tanyanya, dengan suara yang terdengar lemah. Sepertinya beliau kurang enak badan.

“Ya, Bu,” jawab Bu Pratiwi.

Begitu beliau duduk, saya mengambil posisi merekam setelah memberi sedikit arahan – biasanya beliau yang mengarahkan kami.*

(Sepotong memoar, 5 Juni 2025)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *